Ibadah haji adalah salah satu ibadah yang paling utama, berdasarkan hadits Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam :
Ibadah haji sebagai penghapus dosa, berdasarkan hadits Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam :
Dan dari Jabir bin 'Abdillah dari Nabi Shalallaahu alaihi wasalam , beliau bersabda:
"Haji mabrur tidak ada balasannya kecuali Surga. Dikatakan (kepada beliau): 'Apakah bentuk bakti dalam haji itu?' Beliau ber-kata: 'Memberi makanan dan berbicara yang baik.’”( HR. Ahmad, ath-Thabrani, Ibnu Khuzaimah, al-Baihaqi dan al-Hakim. Al-Albani berkata: "Shahih lighairihi, lihat Shahih at-Targhiib" No. 1104) )
"Dari 'Aisyah Radhiallaahu anha,, ia berkata, aku bertutur: 'Ya Rasulullah kami melihat bahwasanya berjihad adalah amal ibadah yang paling utama, apakah kami (para wanita, -pent) tidak berjihad? Maka beliau bersabda: 'Bagi kalian (kaum wanita,-Pent), jihad yang paling utama adalah haji mabrur'" .
"Aku bertutur: 'Ya Rasulullah, apakah ada kewajiban berjihad bagi kaum wanita?' Beliau berkata: 'Bagi wanita adalah jihad yang tidak ada peperangan padanya (yaitu) haji dan umrah.'" (Dishahihkan oleh al-Albani, lihat Shahih at-Targhiib No. 1099).
b.Dari Abu Hurairah Radhiallaahu anhu, ia berkata, Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam bersabda:
"Barangsiapa keluar dalam melaksana-kan haji lalu ia mati, niscaya dicatat baginya pahala seorang haji hingga hari Kiamat. Barangsiapa keluar dalam melaksanakan umrah lalu ia mati, niscaya dicatat baginya pahala seorang yang melaksanakan umrah sampai hari Kiamat, dan barangsiapa keluar dalam berperang dijalan Allah lalu ia mati, niscaya dicatat baginya pahala seorang yang berperang dijalan Allah sampai hari Kiamat."
c. Dari 'Abdullah Ibnu 'Abbas Radhiallaahu anhu, ia berkata:
Sedangkan Imam ath-Thabrani meriwayatkan dalam al-Ausath dengan redaksi:
"Bahwasanya Allah berfirman: 'Sesungguh-nya seorang hamba yang telah Ku-sehatkan tubuhnya, Ku-lapangkan rizkinya, (namun) dia tidak datang kepada-Ku pada setiap empat tahun, benar-benar dia seorang yang diharamkan (dihalangi dari kebaikan,-Pent) (Al-Haitsami berkata dalam Majma'uz Zawaa-id perawi hadits ini semuanya perawi kitab ash-Shahih.)
(عَنْ
أَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ: سُئِلَ رَسُوْلُ الله : أَيُّ الْعَمَلِ
أَفْضَلُ؟ قَالَ: (إِيْمَانٌ بِاللهِ وَ رَسُوْلِهِ)، قِيْلَ: ثُمَّ
مَاذَا؟ قَالَ: (الْجِهَادُ فِيْ سَبِيْلِ اللهِ)، قِيْلَ: ثُمَّ مَاذَا؟
قَالَ: (حَجٌّ مَبْرُوْرٌ
"Dari Abu Hurairah Radhiallaahu anhu ia berkata: Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam ditanya: ‘Amal ibadah apakah yang paling utama?’ Beliau bersabda: ‘Beriman kepada Allah dan Rasul-Nya’. Dikatakan (kepadanya): ‘Kemudian apa?’ Beliau bersabda: ‘Jihad dijalan Allah’. Dikatakan (kepadanya): ‘Kemudian apa?’ Beliau bersabda: ‘Haji yang mabrur.’" ( HR. Al-Bukhari dan Muslim, lihat Shahih at-Targhiib wat Tarhiib oleh al-Albani 3/3 hadits No. 1093. )
Ibadah haji sebagai penghapus dosa, berdasarkan hadits Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam :
مَنْ حَجَّ فَلَمْ يَرْفُثْ وَلَمْ يَفْسُقْ رَجَعَ مِنْ ذُنُوْبِهِ كَيَوْمِ وَلَدَتْهُ أُمُّهُ
"Barangsiapa
yang mengerjakan ibadah haji dan dia tidak melakukan jima' dan tidak
pula melakukan perbuatan dosa, dia akan kembali dari dosa-dosanya
seperti pada hari ketika ia dilahirkan ibunya." ( HR. Al-Bukhari, Muslim, an-Nasa-i, Ibnu Majah dan at-Tirmidzi )
- Balasan bagi haji mabrur adalah Surga, berdasarkan sabda Nabi Shalallaahu alaihi wasalam :
الْعُمْرَِةُ إِلَى الْعُمْرِةِ كَفَّارَةٌ لِمَا بَيْنَهُمَا وَ الْحَجُّ الْمَبْرُوْرُ لَيْسَ لَهُ جَزَاءٌ إِلاَّ الْجَنَّةَ
"Umrah
(yang pertama) kepada umrah yang berikutnya sebagai kaffarat
(peng-hapus) bagi (dosa) yang dilakukan di antara keduanya, dan haji
yang mabrur tidak ada balasan baginya, melainkan Surga." ( HR. Malik, al-Bukhari, Muslim, at-Tirmidzi, an-Nasa-i dan Ibnu Majah). Lihat Shahih at-Targhiib No. 1096. )
Dan dari Jabir bin 'Abdillah dari Nabi Shalallaahu alaihi wasalam , beliau bersabda:
الْحَجَّ
الْمَبْرُوْرُ لَيْسَ لَهُ جَزَاءٌ إِلاَّ الْجَنَّةَ ، قِيْلَ : وَمَا
بِرُّهُ؟ قَالَ: إِطْعَامُ الطَّعَامِ وَ طِيْبُ الْكَلاَمِ
"Haji mabrur tidak ada balasannya kecuali Surga. Dikatakan (kepada beliau): 'Apakah bentuk bakti dalam haji itu?' Beliau ber-kata: 'Memberi makanan dan berbicara yang baik.’”( HR. Ahmad, ath-Thabrani, Ibnu Khuzaimah, al-Baihaqi dan al-Hakim. Al-Albani berkata: "Shahih lighairihi, lihat Shahih at-Targhiib" No. 1104) )
Haji adalah jihad bagi para wanita dan setiap orang yang lemah, berdasarkan hadits Nabi Shalallaahu alaihi wasalam :
عَنْ
عَائِشَةَ قَالَتْ ، قُلْتُ: يَارَسُوْلَ الله نَرَى الْجِهَادَ أَفْضَلَ
اْلأَعْمَالِ ، أَفَلاَ نُجَاهِدُ ؟ فَقَالَ: لَكُنَّ أَفْضَلُ الْجِهَادِ
حَجٌّ مَبْرُوْرٌ
"Dari 'Aisyah Radhiallaahu anha,, ia berkata, aku bertutur: 'Ya Rasulullah kami melihat bahwasanya berjihad adalah amal ibadah yang paling utama, apakah kami (para wanita, -pent) tidak berjihad? Maka beliau bersabda: 'Bagi kalian (kaum wanita,-Pent), jihad yang paling utama adalah haji mabrur'" .
Dalam riwayat Ibnu Khuzaimah, 'Aisyah d berkata:
قُلْتُ:
يَا رَسُوْلَ اللهِ هَلْ عَلَى النِّسَاءِ مِنْ جِهَادٍ؟
قَالَ:|عَلَيْهِنَّ جِهَادٌ لاَ قِتَالَ فِيْهِ الْحَجُّ وَالْعُمْرَة
"Aku bertutur: 'Ya Rasulullah, apakah ada kewajiban berjihad bagi kaum wanita?' Beliau berkata: 'Bagi wanita adalah jihad yang tidak ada peperangan padanya (yaitu) haji dan umrah.'" (Dishahihkan oleh al-Albani, lihat Shahih at-Targhiib No. 1099).
Dan dari Abu Hurairah Radhiallaahu anhu , dari Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam , beliau bersabda:
جِهَادُ الْكَبِيْرِ وَالضَّعِيْفِ وَالْمَرْأَةِ الْحَجُّ وَالْعُمْرَةُ
"Jihad orang yang tua, orang yang lemah dan wanita adalah haji dan umrah."
Orang
yang melaksanakan haji dan umrah adalah tamu Allah, dan permohonan
mereka dikabulkan, berdasarkan hadits 'Abdullah Ibnu 'Umar Radhiallaahu
anhu , Nabi Shalallaahu alaihi wasalam bersabda:
الْغَازِي فِي سَبِيْلِ اللهِ وَالْحَاجُّ وَالْمُعْتَمِرُ وَفْدُ اللهِ ، دَعَاهُمْ فَأَجَابُوْهُ وَسَأَلُوْهُ فَأَعْطَاهُمْ
"Orang
yang berperang dijalan Allah, orang yang haji dan orang yang umrah,
adalah tamu Allah. Dia memanggil mereka, maka mereka pun menjawab
(panggilan)-Nya dan mereka memohon kepada-Nya. Dia-pun memberikan
permohonan mereka."
Keutamaan
perjalanan haji, keutamaan orang yang mati dalam perjalanan untuk
melaksanakan ibadah haji, dan keutamaan orang yang mati dalam keadaan
berihram (ditengah pelaksanaan ibadah haji dan/atau umrah.) Semuanya
termaktub dalam hadits-hadits dibawah ini:
a. Dari 'Abdullah bin 'Umar Radhiallaahu anhu ia berkata, aku mendengar Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam bersabda:
مَاتَرْفَعُ إِبِلُ الْحَجِّ رِجْلاً ، وَلاَ يَدًا إِلاَّ كَتَبَ اللهُ لَهُ بِهَا حَسَنَةً أَوْ رَفَعَهُ بِهَا دَرَجَةً
"Tidaklah
unta (yang dikendarai) seseorang yang melaksanakan haji mengangkat
kaki(nya) dan tidak pula meletakkan tangan(nya) melainkan Allah mencatat
bagi orang itu satu kebaikan atau menghapus darinya satu kejelekan atau
meng-angkatnya datu derajat."
b.Dari Abu Hurairah Radhiallaahu anhu, ia berkata, Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam bersabda:
مَنْ
خَرَجَ حَاجًّا فَمَاتَ كُتِبَ لَهُ أَجْرُ الْحاَجِّ إِلَى يَوْمِ
الْقِيَامَةِ وَمَنْ خَرَجَ مُعْتَمِرًا فَمَاتَ كُتِبَ لَهُ أَجْرُ
الْمُعْتَمِرِ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ وَمَنْ خَرَجَ غَازِيًا فَمَاتَ
كُتِبَ لَهُ أَجْرُ الْغَازِى إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ
"Barangsiapa keluar dalam melaksana-kan haji lalu ia mati, niscaya dicatat baginya pahala seorang haji hingga hari Kiamat. Barangsiapa keluar dalam melaksanakan umrah lalu ia mati, niscaya dicatat baginya pahala seorang yang melaksanakan umrah sampai hari Kiamat, dan barangsiapa keluar dalam berperang dijalan Allah lalu ia mati, niscaya dicatat baginya pahala seorang yang berperang dijalan Allah sampai hari Kiamat."
c. Dari 'Abdullah Ibnu 'Abbas Radhiallaahu anhu, ia berkata:
بَيْنَمَا
رَجُلٌ وَاقِفٌ مَعَ رَسُوْلِ اللهِ ; بِعَرَفَةَ إِذْ وَقَعَ عَنْ
رَاحِلَتِهِ فَأَقْعَصَتْهُ فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ ; | اغْسِلُوْهُ
بِمَاءٍ وَسِدْرٍ وَكَفِّنُوْهُ بِثَوْبَيْهِ وَلاَ تُخَمِّرُوْا رَأْسَهُ
وَلاَ تُحَنِّطُوْهُ فَإِنَّهُ يُبْعَثُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مَلَبِّيًا
"Tatkala
seseorang sedang wukuf bersama Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam
dipadang 'Arafah, tiba-tiba ia dijatuhkan oleh binatang (unta) yang
dikendarainya dan mematahkan lehernya, maka Rasu-lullah Shalallaahu
alaihi wasalam bersabda: 'Mandikanlah dia dengan air dan daun bidara,
kafanilah dia dengan dua helai (kain) ihramnya dan jangan kalian menutup
kepalanya serta jangan pula kalian beri wangi-wangian padanya, karena
sesungguh-nya dia akan dibangkitkan dihari Kiamat dalam keadaan
mengucapkan talbiyah.'"
- Dan lain-lain.
Itulah
sejumlah keutamaan ibadah haji dan umrah yang kami rangkum dari
beberapa hadits yang shahih dan hasan. Jika kita telah mengetahuinya,
maka sepatutnya bagi orang yang mampu untuk giat dan bersungguh-sungguh
dalam melaksanakan ibadah haji, serta menggunakan kesempatan dengan
sebaik-baiknya, manakala ia memilikinya.
Syaikh 'Abdullah bin Ibrahim al-Qar'awi berkata: "Disunnahkan melaksanakan haji setiap tahun bagi orang yang mampu selama tidak membahayakan dirinya dan orang-orang yang menjadi tanggung jawabnya" , berdasar-kan hadits 'Abdullah bin Mas'ud Radhiallaahu anhu , Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam bersabda:
Syaikh 'Abdullah bin Ibrahim al-Qar'awi berkata: "Disunnahkan melaksanakan haji setiap tahun bagi orang yang mampu selama tidak membahayakan dirinya dan orang-orang yang menjadi tanggung jawabnya" , berdasar-kan hadits 'Abdullah bin Mas'ud Radhiallaahu anhu , Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam bersabda:
تَابِعُوْا
بَيْنَ الْحَجِّ وَالْعُمْرَةِ فَإِنَّهُمَا يَنْفِيَانِ الْفَقْرَ
وَالذُّنُوْبِ كَمَا يَنْفِى الْكِيْرُ حَبَثَ الْحَدِيْدِ وَالذَّهَبِ
وَالْفِضَّةِ وَلَيْسَ لِلْحَجَّةِ الْمَبْرُوْرَةِ ثَوَابٌ إِلاَّ
الْجَنَّةَ وَمَا مِنْ مُؤْمِنٍ يَظَلُّ يَوْمَهُ مُحْرِمًا إِلاَّ غَابَتِ
الشَّمْسُ بِذُنُوْبِهِ
"Ikutilah
antara ibadah haji dan umrah, karena keduanya akan menghilangkan
kefakiran dan berbagai dosa sebagaimana alat pandai besi menghilangkan
kotoran yang ada pada besi, emas dan perak. Dan tiada balasan pahala
bagi haji yang mabrur kecuali Surga, tidaklah seorang mukmin dalam
kesehariannya berada dalam keada-an ihram, melainkan matahari terbenam
dengan membawa dosa-dosanya."
Sunnah
tersebut semakin ditekankan lagi jika telah melewati empat atau lima
tahun dari haji yang dilakukan sebelumnya, berdasarkan sabda Nabi
Shalallaahu alaihi wasalam :
إِنَّ
اللهَ يَقُوْلُ: إِنَّ عَبْدًا صَحَّحْتُ لَهُ جِسْمَهُ وَ وَسَّعْتُ
عَلَيْهِ فِيْ الْمَعِيْشَهِ يَمْضِى عَلِيْهِ خَمْسَةُ أَعْوَامٍ لاَ
يَفِدُ إِلَيَّ لَمَحْرُوْمٌ
"Sesungguhnya Allah berfirman: 'Sesung-guhnya
seorang hamba yang telah Kusehat-kan jasadnya dan Kulapangkan
penghi-dupannya, telah berlalu lima tahun atasnya, dia tidak datang
kepada-Ku, benar-benar dia seorang yang diharamkan(dihalangi dari kebaikan-Pent). (HR. Ibnu Hibban dalam shahihnya, Abu Ya'la dan al-Bai-haqi).
Sedangkan Imam ath-Thabrani meriwayatkan dalam al-Ausath dengan redaksi:
إنَّ
اللهَ يَقُوْلُ: إِنَّ عَبْدًا صَحَّحْتُ لَهُ بَدَنَهُ وَ أَوْسَعْتُ
عَلَيْهِ فِي الرِّزْقِ لَمْ يَفِدْ إِلَيَّ فِيْ أَرْبَعَةِ أَعْوَامٍ
لَمَحْرُوْمٌ
"Bahwasanya Allah berfirman: 'Sesungguh-nya seorang hamba yang telah Ku-sehatkan tubuhnya, Ku-lapangkan rizkinya, (namun) dia tidak datang kepada-Ku pada setiap empat tahun, benar-benar dia seorang yang diharamkan (dihalangi dari kebaikan,-Pent) (Al-Haitsami berkata dalam Majma'uz Zawaa-id perawi hadits ini semuanya perawi kitab ash-Shahih.)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar